Skip to content

Sejarah Masjid Agung Karawang

masjid agung karawang

Masjid Agung Karawang yang ada di alun-alun kota Karawang sekarang ini berdiri istimewa dan ialah bangunan monumental yang di punyai kabupaten berjulukan Kota Lumbung Padi ini.

Bangunan masjid ini berbentuk joglo dengan bertiang penting (saka guru) empat. Sedang atapnya berbentuk limas bersusun tiga undak, sama dengan masjid Agung Cirebon atau masjid Agung Demak.

Masjid yang didirkan tahun 1418 masehi ini ialah masjid benar-benar tua di Pulau Jawa. Masjid Agung Karawang ini dibuat oleh Syekh Hasunudin bin Yusuf Sidik ataupun lebih dijumpai jadi Syeh Quro dan menjadi pusat penebaran Islam di Kabupaten Karawang dan sekitarnya.
Berdasar keterangan Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Karawang, Acep Jamhuri menerangkan permulaannya bangunan masjid yang dibuat oleh syeh Quro ini luasnya hanya 9 x 9 mtr..

Namun dalam peralihannya bangunan ini alami sering pembongkaran sampai terakhir luas bangunan ini sampai luas 2.230 mtr.. Masjid Agung Karawang disebut jadi masjid benar-benar tua di Pulau Jawa.

Masjid ini dibuat di tahun 1418 masehi oleh Syekh Hasunudin bin Yusuf Sidik ulama atau Syeh Quro. “Masjid ini lebih tua dibandingkan dengan Masjid Agung Cirebon (1475 masehi) dan Masjid Agung Demak (1479),” kata Acep.

Syekh Quro, kata Acep, tiba bersama dengan kelompok teman dekatnya, satu diantaranya adalah Syekh Abdurahman dan Syekh Maulana Darugem atau Syekh Gentong. Beberapa ulama itu datang menggunakan perahu dagang melalui Sungai Citarum dan stop di tatap muka Sungai Cibeet dan Citarum, yang disebutkan dermaga Sundapura atau saat ini dijumpai dengan Tanjungpura.

“Sungai Citarum dulunya bisa dilewati beberapa kapal besar. Pelacak Portugis mengatakan Karawang ini jadi Karavan karena barisan beberapa kapal besar. Syekh Quro stop disitu dan tidak jauh dari dermaga membuat Masjid Agung dan pesantren,” katanya.

Waktu dibikin, masjid ini mempunyai ukuran 9×9 mtr.. Sampai saat ini sudah alami sering pembongkaran. Wujud Permulaannya, menurut Acep, memiliki kesamaan dengan Masjid Agung Cirebon dan Demak yakni pada bangunan Joglo bertiang penting (saka guru) empat dan wujud atap limas bersusun tiga undak.

Dia menjelaskan, masjid ini sempat alami pembongkaran sekitaran 3x, satu diantaranya adalah pada zaman Bupati Adipati Singaperbangsa, Raden Mangku Tohir Mangkudijoyo, lalu dibenahi kembali lagi ke zaman Bupati Sumarno Suradi atas persetujuan beberapa ulama dengan luas 2.230 mtr..
“Insya Allah pada pemerintah Bupati Cellica akan benahi di depan, termasuk komplek pemakamannya. Sampai, nantinya orang yang berdoa yang berziarah juga lebih representatif,” katanya.

Acep menerangkan ada di belakang Masjid Agung ada pusara Syekh Quro dan pusara Syekh Abdurahman yang sering diziarahi oleh warga Karawang dan luar Karawang. Waktu bulan ramadhan kemarin beberapa ratus penziarah datang ke Masjid Agung dari banyak daerah untuk memanjatkan doa.

Namun, sampai saat ini tidaklah dijumpai kebenarannya dengan tepat di mana Syekh Quro dimakamkan. Karena, ada pula Makom Syekh Quro di Daerah Pulobata, Dusun Pulokelapa, Kecamatan Kurang kuatabang, Karawang. “Memang belumlah jelas sebenarnya disemayamkannya di mana karena ada dua tempat pusara syekh quro,” katanya.

Jual Kubah Masjid di Riau – Pada umumnya harga kubah masjid Galvalum premium dapat anda raih mulai dari harga Rp 1.000.000 sampai dengan 1,6 juta rupiah per m2. PT. Anugerah Kubah Indonesia menyediakan kubah motif anti bocor dan tahan tanpa perlu maintenance hingga 20 tahun lebih

Tahap Pertama ukuran diameter kubah yang akan dipesan Hubungi Kantor Pusat :

Harga yang kami berikan sudah termasuk biaya pengiriman dan pemasangan kubah sampai SELESAI!! Daftar Harga Kubah Masjid Agung An-Nur Provinsi Riau.

Jenis kubah yang kami produksi :

  1. KUBAH PANEL ENAMEL
  2. KUBAH PANEL GALVALUME PREMIUM QOOBAH (PGPC)
  3. KUBAH MASJID PANEL TITANIUM GOLD / STAINLESS GOLD 304

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!